SEjarah Desa Manggis


  1. Sejarah Desa Manggis

Desa Manggis merupakan sebuah desa yang terletak antara 815 – 880 di atas permukaan laut(dpl). Kondisi inilah membuat udara disini sejuk dengan suhu rata-rata 230 Celcius sedang curah hujan bisa mencapai 2500 mm/tahun. Sebagai desa yang memiliki luas 332.424. m2 yang berbukit-bukit membuat hubungan antara keempat dusunnya agak berjauhan. Dimana dusun satu dengan dusun lainnya terletak berlainan bukit, dengan situasi dan kondisi ini menambah daya tarik tersendiri karena sepanjang perjalanan menuju ke dusun lainnya keindahan alam sangat menarik, selain itu masing-masing dusun tersebut juga memiliki budaya yang khas. Keempat dusun tersebut adalah Dusun Manggis, Dusun Ngebrak, Dusun Wonolobo dan Dusun Ngepoh. Desa Manggis di sebelah barat berbatasan dengan Desa Tlogo Kecamatan Sukoharjo, sebelah utara berbatasan dengan Desa Kuripan Kecamatan Watumalang, sebelah timur berbatasan dengan Desa Limbangan Kec. Watumalang dengan Desa Durensawit Kec. Leksono sedang sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kalimendong. Desa yang berpenduduk 2757 jiwa ini dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 766, 408 bekerja sebagai petani, 37 sebagai pedagang, 67 orang sebagai tukang kayu dan batu, buruh tani 50 orang, home industry 97 orang, pensiunan 5 orang, PNS 15 orang dan sisanya bekerja serabutan. Desa ini berjarak 8 km dari ibukota kecamatan sedang dari ibukota kabupaten berjarak 15 km ke arah barat dengan kondisi jalan yang bagus beraspal. Karena wilayah Wonosobo merupakan wilayah pegunungan maka sepanjang jalan dari ibukota kecamatan maupun kabupaten bisa menikmati pemandangan alam yang asri.


Potensi

    Potensi yang dimiliki desa ini yang bisa membuat desa ini berkembang dan memiliki ciri khas dengan daerah lain adalah selain keindahan alam juga didalam bidang perkebunan berupa perkebunan salak pondoh dan hutan rakyat sedang bidang kebudayaan berupa adat pernikahan, nyadran (bersih desa). Tari Topeng, Tari Munil, Tari Lengger, rebana, Tari Kuda Kepang Dhem dan Musik Jawanan. Pada Parade Kuda Kepang Kabupaten Tahun 2015 Tari Kuda Kepang Dhem Krida Laras Sakti mewakili Desa Manggis dalam kegiatan tersebut mendapat juara favorit. 
    Hasil panen perkebunan salak di desa ini rata-rata 5 ton/hari dengan rasa manis dan bentuk buah yang lebih besar berbeda dengan salak pondoh dari daerah lain, keunggulan lain yaitu penanaman dan perawatan salak pondoh di desa ini tidak menggunakan pupuk ataupun pestisida dari bahan kimia sehingga dijamin hasilnya menjadi salak pondoh organik.

Salak pondoh tersebut oleh pedagang dikirim di pasar tradisional bahkan pusat-pusat perbelanjaan ke berbagai kota antara lain Banjarnegara, Tegal (JATENG), Yogyakarta dan Bojonegoro (JATIM).
    Sedangkan dalam hal perkebunan rakyat, kayu yang banyak ditanam adalah jenis Albasia yang dijadikan bahan dasar triplek. Tiap harinya rata-rata kayu yang dihasilkan adalah 25 m3. Para penduduk sadar apabila tanpa adanya reboisasi maka akan dapat merugikan diri sendiri. Oleh sebab itu, setelah pohon ditebang tak berapa lama kemudian perkebunannya ditanami kembali.
    Di bidang budaya, walaupun Kabupaten Wonosobo memiliki berbagai budaya kesenian dan adat istiadat yang sama. Namun , Desa Manggis memiliki ciri tersendiri dalam hal kesenian dan adat istiadatnya, terutama dalam adat pernikahan, nyadran (bersih desa). Tari Topeng, Tari Munil, Tari Jaranan, Tari Lengger, Rebana dan Musik Jawanan.
Tak kalah dengan desa se-kecamatan Leksono prestasi di bidang pendidikan baik akademik maupun non akademis patut diperhitungkan baik siswanya maupun tenaga pendidiknya. Sekolah yang ada di sini yaitu SDN 1 & 2 Manggis serta SMPN 2 Leksono. Untuk lebih jelas dan lengkap Anda dapat melakukan studi banding ke sekolah-sekolah tersebut.
    Sejak tahun 1980 Desa Manggis sudah mengukir sejarah dalam mengukiti lomba Desa dan mendapatkan juara. Tahun 1981 mendapatkan juara II tingkat Provinsi sehingga Desa Manggis terkenal hingga seantero Nusantara. Tahun-tahun berikut Desa Manggis selalu mendapat kunjungan untuk study banding oleh saudara-saudara dari lain daerah bahkan lain Provinsi. Pernah pula dikunjungi oleh dokter-dokter se-Indonesia.
    Tahun berganti tahun selalu diisi dengan kegiatan pembangunan dari listrik masuk desa, pengaspalan jalan desa dan bangunan-bangunan lain. Sebelum ada listrik tiap malam penduduk diwajibkan untuk menyalakan lentera didepan rumah masing-masing untuk menjaga keamanan. Jaga malam juga aktif dilaksanakan oleh penduduk tiap malam dengan cara bergantian tiap kelompok atau yang terkenal dengan  “ronda “. Pagi harinya warga diwajibkan untuk membersihkan halaman rumah masing-masing untuk menjaga agar Desa Manggis tetap terlihat indah rapi dan bersih. Khusus hari Jum’at wajib untuk menjemur kasur dan slapanan PKK dilaksanakan tiap hari Jum’at Kliwon.
    Kedisiplinan yang diciptakan oleh Kepala Desa pada waktu itu yaitu Bapak Nikoen Naryowinoto sudah mendarah daging di hati para warga. Sehingga tiap ada kegiatan sesuatu yang menyangkut kegiatan desa cukup dengan memukul kentongan, warga sudah berkumpul dengan kesadaran masing-masing. Tidak ada istilah jam karet seperti sekarang.
    Tahun 2008 kembali Desa Manggis mengikuti lomba 10 Program Pokok PKK tingkat kabupaten Wonosobo dan mandapat juara I. Itu semua atas kerja sama dan dukungan para warga sehingga bisa meraih kembali apa yang pernah dirasakan dan dinikmati pada tahun yang lampau. Dengan menampilkan beberapa kreasi makanan dan ketrampilan dengan bahan lokal maka apa yang dicita-citakan warga bisa diraih. Yang tak kalah menariknya adalah sepak bola perempuan yang sudah beberapa kali meraih juara kompetisi baik tingkat kecamatan maupun kabupaten yaitu PS PERSEBRA PUTRI.
Potensi yang perlu pertimbangkan untuk segera disikapi adalah keindahan alam yang ada di kawasan Desa Manggis. Keindahan alam tersebut dapat dilihat di sekitar hutan lindung Paron terdapat air terjun Si Barat yang masih alami, Lokasi lapangan Desa yang bisa digunakan untuk gardu pandang melihat Kota Wonosobo dan sekitarnya, tanah kas desa yang seluas 79.114 m2 bila dikelola dengan investasi dan manajemen yang bagus bisa digunakan untuk tempat peristirahatan maupun perkebunan teh atau sejenisnya demikian pula perbukitan Genthing dan Njaten yang letaknya tinggi dan luas dapat pula dibuat sebagai lapangan Golf maupun perhotelan.


 Asal-Usul 

  1. Dusun Manggis

‚ÄčBerdasarkan penuturan sesepuh dan penelusuran sejarah. Sejarah Desa Manggis bermula dari kedatangan pengembara di jaman Mataram Islam yang memiliki sebutan Kyai Pardjo Ambong Jagat Sakti dan Mbah Ganggangsari. Beliau adalah tokoh yang linuwih dan taat menjalankan agama Islam. Hal itu dibuktikan dalam perjalanan panjang liku-liku sejarah Manggis dan sekitarnya.
    Suatu waktu, perjalanan Kyai Pardjo Ambong Jagat Sakti dan Mbah Ganggangsari yang diikuti sanak saudaranya sampai di daerah pesawahan yang subur dengan air melimpah, tepatnya berada disekitar tempat pemakaman umum desa Kalimendong sekarang. Beliau dan pengikutnya memutuskan bertempat tinggal disini. Selama bertempat tinggal di sini, terdapat keanehan-keanehan yang terjadi. Salah satunya terdapat pohon manggis  hingga tua yang tidak mau besar dan tidak berbuah. Pada akhirnya, Kyai Pardjo Ambong Jagat Sakti berujar daerah tersebut disebut Manggis.
Seiring dengan banyaknya pendatang di daerah tersebut, akhirnya dicobalah mencari tempat yang lebih lapang untuk memperluas pemukiman. Dikemudian hari daerah ini disebut cobaan. Di tempat ini, beliau dan pengikutnya tidak tinggal lama disebabkan keamanan yang tidak memungkinkan.
    Melihat kondisi yang sangat memprihatinkan Kyai Pardjo Ambong Jagat Sakti dan Mbah Ganggangsari  kemudian bertafakur ( semedi ) mohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa guna mencari tempat baru yang tepat untuk bertempat tinggal. Setelah mendapatkan petunjuk bersama-sama Kyai Pardjo Ambong Jagat Sakti dan Mbah Ganggangsari berjalan menuju ke arah timur hingga sampai di daerah Jambon sekarang. Di sini, bersama-sama membuka hutan untuk tempat pemukiman dan lahan pertanian sebagai sumber penghidupan mereka.
Mereka tinggal di Jambon hingga bertahun-tahun bahkan membuat tempat pemakaman bagi penduduk. Sekarang tempat ini lebih dikenal dengan nama kuburan budha.
    Selama tinggal di tempat ini, kedua tokoh linuwih mendapatkan wangsit ( petunjuk dari Yang Maha Kuasa ) untuk mencari tempat yang lebih baik dan bisa berkembang menjadi desa yang ramai. Dalam wangsitnya disebutkan tempat yang tepat untuk Manggis adalah tanahnya berbau harum wangi seperti bau buah manggis. Maka beliau berjalan ke arah barat, ditengah perjalanan, beliau beristirahat dan menancapkan tongkat pusakanya yang selalu dibawa pada waktu berjalan. Waktu akan meneruskan perjalanan tongkatnya dicabut, dari tempat tongkat yang dicabut memancar bau yang harum seperti yang ada di wangsit. Maka diputuskan, beliau dan pengikutnya pindah ke tempat yang baru. Yang sekarang dengan nama Dusun MANGGIS.

 

        2. Dusun Ngebrak

Asal-usul Dusun Ngebrak masih ada kaitannya dengan Kyai Pardjo Ambong Jagat Sakti dan Mbah Ganggangsari, hal ini didasarkan pada ikut perannya beliau terhadap berdirinya Ngebrak.
Pada masa terbentuknya dusun Manggis, sekitar dusun Manggis masih berupa hutan dan menjadi sarang para begal ( penjahat ). Hal ini membuat keprihatinan dan menggugah para tokoh agama dan kemasyarakatan untuk membasminya. Ladang Manggis pada waktu itu masih berupa hutan yang lebat dijadikan sebagai markas. Oleh sebab itu, para tokoh saling berkoordinasi untuk merencanakan penyerangan ke markas penjahat. Disepakati dari arah barat dipimpin oleh Kyai Lengger dan Kyai Pardjo Ambong Jagat Sakti  dari arah timur.
    Pada hari yang telah ditetapkan, pasukan Kyai Lengger bertempur dengan gagah berani melawan para penjahat, walaupun pihak lawan menggunakan senjata api dan pasukan Kyai Lengger hanya menggunakan keahlian dan senjata seadanya.
    Sedangkan, Kyai Pardjo Ambong Jagat Sakti yang waktu itu masih tinggal di Jambon dalam perjalanannya ke ladang manggis berteduh dengan sebatang daun  waluh kenthi. Kejadian tersebut sangat aneh karena cuacanya sangat cerah tidak mendung dan sinar matahari tidak bersinar dengan terik. Di bawah daun waluh kenthi tersebut Kyao Pardjo Ambong Jagat Sakti berdo’a. Karena kedekatan kepada Allah Yang Maha Kuasa dan karomah beliau. Permohonannya dikabulkan, dimana waktu bersamaan terjadi pertempuran yang sengit antara Pasukan Kyai Lengger dengan para penjahat. Mendadak terjadi hujan yang lebat disertai angin puting beliung dan petir sambar menyambar. Anehnya, Angin dan petir tersebut hanya menyerang para penjahat sedang pasukan Kyai Lengger tidak diserang sama sekali. Akibat kejadian tersebut membuat para penjahat melarikan diri kalang kabut. Akhirnya pertempuran tersebut dimenangkan oleh para pembela kebenaran. Daerah yang digunakan untuk menggebrak/melawan penjahat oleh Pasukan Kyai Lengger lama-kelamaan dinamakan NGEBRAK.

        3. Dusun Wonolobo

Sejarah berdirinya Dusun Wonolobo juga tak lepas dari pertempuran antara Pasukan Kyai Lengger dengan para penjahat di ladang manggis. Pada pertempuran tersebut yang menggunakan senjata api berlangsung sangat sengitnya. Suara tembakan terdengar hingga di hutan sekitar Lempong. Dimana di daerah tersebut tumbuh pohon kayu Calaba. Akhirnya daerah hutan tersebut lama kelamaan berubah nama menjadi Wanalaba. Pada waktu terjadi pertempuran, didaerah Lempong tersebut sudah ditempati oleh beberapa keluarga. Sehubungan dengan adanya pemberian nama Wanalaba membuat para penduduk dari daerah lain untuk pindah ke tempat ini karena tertarik dengan tanahnya yang subur. Dengan dipinpin oleh Kyai Wana Dipa daerah nglaba dibangun dan membuat sungai untuk mendatangkan air dari daerah yang lebih atas untuk mengairi pertanian didaerah ini. Karena tanahnya subur dan banyak didatangi orang maka sampai sekarang dinamai WONOLOBO yang artinya tanah yang subur.

 

      4. Dusun Ngepoh

Sejarah Dusun Ngepoh lain dari dusun-dusun yang lain, karena disini dulu ada sebuah pohon asem yang umurnya sudah ratusan tahun akan tetapi belum pernah berbuah sehingga menarik orang untuk tinggal diaerah ini. Setelah sudahada bebrapa yang tinggal disini pohon asem tersebut tidak juga berbuah maka kemudian diberi nama ASEM POH.
Poh yang berarti menipu banyak orang. Sejak saat itu daerah ini dikenal dengan nama Ngepoh. Sampai sekarang dikenal dengan nama Dusun Ngepoh.


Riwayat Pemerintahan

Sedangkan nama Desa Manggis oleh leluhur adalah sebuah harapan besar tertera disini. Buah Manggis adalah buah yang kulitnya jelek tebal hitam akan tetapi apabila dibuka warnanya putih dan rasanya manis. Buah manggis juga mengandung filosofi kejujuran antara luar dan dalam. Apabila diamati diluar buah manggis bintik-bintik yang disebut kapal yang terletak dipantat buah, apabila pantat itu dihitung jumlahnya berapa maka isi buah didalamnya sama dengan jumlah pantat(kapal) tersebut. Dan bau buah Manggis sendiri harum yang tidak dimiliki oleh buah yang lain.
    Dengan mempelajari filisofi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa cita-cita Kyai Pardjo Ambong Jagat Sakti dan Mbah Ganggangsari ingin warga Desa Manggis dari dulu sampai yang akan datang supaya menjadi warga yang jujur lahir bathin baik dalam perkataan maupun pekerjaan sehingga akan menjunjung nama baik diri sendiri, keluarga dan desa Manggis pada umumnya.
    Pada tahun 2015 Desa Manggis kembali mengukir sejarah yaitu berhasilnya meraih juara I tingkat Kabupaten dalam lomba perpustakaan. Yang tak kalah menarik di Desa Manggis tiap tahun pasti diadakan peringatahan Hari Lahir RA Kartini, itu membuktikan bahwa warga Desa Manggis sangat menghargai para pejuang terdahulu dan bukti cinta kepada NKRI.

  • SUYANTO        : Periode 2014 – 2019

Suyanto adalah Kepala Desa Manggis untuk periode 2014 – 2019 dan terpilih kembali. Pada masa kepemimpinannya telah tercapai beberapa prestasi, diantaranya Desa Tertib dan Taat Pajak Bumi Dan Bangunan. Selain itu juga mampu menciptakan transparansi di bidang pemerintahan.

  • SURADI        : Periode 2006-2014

Suradi lahir pada tanggal 24 Oktober 1954 di Wonosobo. Pendidikan terakhir adalah SLTA. Beliau adalah anak ketiga dari bapak Sartam raji wikarta, beliau adalah seorang veteran.

  • SLAMET SUGIYANTO        : Periode 1997-2006

Slamet sugiyanto, Lahir di Wonosobo 25 April 1953. Pendidikan terakhir beliau adalah SMP. Sebelum menjadi kepala desa beliau adalah wiraswasta, Ia menjabat selama satu periode.

  • NIKOEN NARYOWINOTO        : Periode 1971- 1997

Nikoen naryowinoto Lahir di Wonosobo 4 September 1937. Beliau sebelum menjabat sebagai kepala desa adalah merupakan anggota TNI. Banyak sekali prestasi yang di raih selama menjabat sebagai kepala desa, baik ditingkat kecamatan, kabupaten maupun propinsi.

  • MARTO DIHARJO        : Periode 1942 - 1971

Marto diharjo, adalah merupakan pemimpin yang cukup tegas dan bijak dalam memutuskan setiap masalah dan kegiatan.

  • MBAH DOLAH        : Periode 1928 - 1942

Mbah dolah, merupakan pejuang yang ikut berperang melawan penjajah, dalam masa kepemimpinanya cukup disegani.

 


Total Dibaca

Kami mengatakan tidak untuk

Contact Details

Telephone: -
Email:  -
Website: https://manggis-leksono.wonosobokab.go.id

-